01/30/2008
Miss My Friends
300108 , 13.09
Tiba-tiba inget aroel, ar, bestmen. Berhubung yang ada esia cm aroel, akhirnya saya menelfon dia. Hampir ngga ada bedanya dengan saya, dia juga sedang bosan, lelah dan capai. Kemudian saya kembali mengingat jaman dahulu, jaman jahiliyah kami. Yang suka jalan-jalan di Jum'at malam, menemani kawan-kawan tercintaku itu mabuk-mabukan, dan biasanya si kami kaum wanita lah yang masih sadar ketika semua teman-teman saya itu sudah berada di awang-awang. Mengingat kebahagiaan jaman dahulu, saya kangen...
Di jaman itu saya bisa menelfon mereka tanpa berpikir jam berapa sekarang, atau yang lainnya...Saya ngga mikir mereka sedang disibukkan dengan urusan-urusan lainnya, pokoknya kalo sedang stress dan mau ketawa-tawa yang diingat cuma mereka. Dan biasanya sih hati menjadi senang, karena omongan yang ngaco-ngaco bisa membuat saya tertawa...
Alhamdulillah, saya senang punya mereka...Meskipun hampir ngga pernah saya bercerita tentang masalah pribadi, yang selama ini mereka tau hanya yang dipermukaan saja selebihnya adalah asumsi, namun saya senang punya mereka, ngga tau kenapa saya yakin mereka adalah teman yang baik...
Kemudian saya mengingat jaman dahulu lagi, rasanya hidup jauh lebih mudah, beban yang dipikul juga ngga terlalu berat. Semakin tinggi malahan semakin ngga nyaman. Sampai tadi aroel bilang: "Ji, kita banting stir aja yuk, jenuh ni gw". Sama banget dengan apa yang saya rasakan sekarang, saya jenuh dan bosan, sangat!! Kemudian saya berpikir, mungkin enak jadi orang yang biasa-biasa saja, yang hidup juga pas, ngga lebih ngga kurang. Bisa makan, bisa punya baju, bisa minum... Ngga ada keinginan duniawi yang buat saya terkadang sangat menyusahkan.
Bahagia memang apabila bisa seperti itu, namun saya yakin orang yang bisa hidup biasa-biasa saja itu juga ngga akan pernah puas, mereka juga pastinya akan mau hidup yang 'lebih'. Memang itu sifat manusia yang standard, semua yang tidak dimiliki selalu terlihat lebih dari yang sudah dimiliki.
Tuhan, saya bosan, jenuh, semoga Engkau mau menolong saya...Amin
14:08 Permalink | Comments (1) | Email this
Failed!
300108 , 11.05
Saya gagal, setelah dua minggu yang lalu saya membuat komitmen untuk diri saya sendiri, tadi malam adalah waktunya kegagalan itu yang akhirnya harus saya akui. Ngga gampang untuk menahan emosi dan ego, semua tumpah ruah tak terbendung, sampai akhirnya yang ada cuma kekesalan dan amarah yang membuat lelah..
Masalahnya cuma sepele banget, saya kesal karena harus terus bertanya, pertanyaan yang timbul karena jawabannya yang super singkat, tanpa ada pertanyaan balasan tentang bagaimana saya..Di ujung-ujungnya saya menyesal karena harus marah, yang sebenarnya ngga perlu sm sekali karena masalahnya sepele banget..Kesel banget, menghadapi orang yang ngga punya perasaan kaya dia...Itu saja yang membuat semuanya jadi panjang.
Jam 00.30 pagi saya mengirimkan sms permohonan maaf, simpel sih, saya merasa salah dan ngga mau panjang-panjang, tapi di sisi yang lain, ada kemungkinan juga dia memperpanjang semuanya...Saya pasrah lah, kalo emang jadi panjang dan saya ngga bisa membendung semuanya, yang harus dikorbankan adalah rasa capai yang didera kembali karena semuanya jadi panjang...
Namun pagi ini dia telfon saya kok, dan cm satu hal yang ingin disampaikan bahwa dia menelfon bukan karena saya mengirimkan sms permintaan maaf, saya ngga kirim sms pun dia akan tetap menelfon...
Yah, biar bagaimana pun saya sudah gagal, dan seharusnya kegagalan ini ada hukumannya. Saya ngga tau apa-apa, saya ngga terasa apa-apa, saya cuma bisa menangis untuk tidak bisa merasakan apa-apa..
Lelah...
Kenapa dia ngga mau menolong saya...
Kenapa semua begitu rumit...
:'(
11:25 Permalink | Comments (0) | Email this
01/28/2008
Welcome to Jakarta
280108 , 11.36
Sabtu 26 Januari , 22.30. Dia sampai di bandara soekarno hatta, akhirnya ada telfon juga setelah susah banget 1 harian di hubungi. Agak sedikit ngga enak, karena ada pertanyaan dari saya mengapa ngga dikabarin ketika akan berangkat menuju jakarta, dan jawabannya (dia banget) emang harus ya? Kalo saya yang dulu, kaya gini mah udh pasti jadi berkepanjangan, namun malam minggu itu saya hanya bilang mengapa saya merasa perlu di kabarin dan saya menterserahkan ke dia kalo ternyata pertanyaan itu ganggu, saya akan berusaha menghilangkannya (pelan-pelan dear, ini kan juga lagi usaha).
Rencana hari minggu adalah menemani dia yang akan beli oleh-oleh tambahan, karena ternyata setelah di list oleh-olehnya kurang. Dengan sedikit akal-akalan, kami pergi menuju sebuah mal dibilangan kuningan. Itu juga agak ngga enak lagi, cuma gara2 saya minta dia bertemu dengan orang tua saya, sementara dia enggan karena waktunya ngga leluasa. Kalo saya yang dulu, masalah kaya gini udh pasti akan panjang banget urusannya, tapi kali ini saya hanya menahan kekesalan, sambil mengirimkan sebuah sms yang bilang jemput saja saya di lobi. Dia menelfon dan bilang ngga mau marah-marah ya, dan saya mengiyakan. Dan sampai di mobil pun ngga ada yang terjadi melainkan hanya bercerita tentang bagaimana perjalanan dia di hongkong kmrn. Dan sembari melihat oleh-oleh yang dia bawakan untuk saya (terima kasih banyak, saya dapat banyak barang panda yang bagus2).Ngga terasa, sampailah kami di mal itu...
Setelah selesai semua urusan, maka perjalanan selanjutnya adalah menuju timur jakarta untuk mengembalikan saya ke kos. Karena perjalanan dia akan berlanjut ke kantor, untuk mengerjakan laporan perjalanan 1 minggu kemarin, setelah sholat ashar maka dia pamit, sembari berkata di laptop banyak foto panda hasil bidikan dia di ocean park kemarin...
Saya di sibukkan dengan membenahi kamar sesaat setelah dia pergi, ngga terasa matahari sudah mulai tenggelam, dan saya masih harus melanjutkan bebenah, sampai dengan jam 20.30 malam baru selesai...Dan saya teringat akan foto-foto panda ocean park yang ada di laptop saya...Sampai akhirnya, saya menemukan beberapa foto aneh yang akhirnya saya ngga kuat buat ngga bertanya...Dan jawabannya adalah, itu foto temannya yang meminjam laptop saya untuk mendownload foto dari kameranya..Sederhana, tanpa kepanikan (yang terdengar dari suaranya) pada saat mengklarifikasi pertanyaan saya...
Kalo saya yang dulu, masalah kaya gini mah udh bakalan panjangggg banget. Dengan paranoid dan trauma, rasanya lengkap banget apabila saya mengkedepankan emosi dan ego saya untuk menyiksa diri dengan airmata dan kesakitan...Namun saya tidak memilih itu, saya hanya mengirimkan sms bahwa saya masih takut akan semua yang pernah terjadi dahulu, takut banget itu terjadi lagi...Dan sudah, saya ngga perlu reply dari dia, saya hanya ingin dia tahu...
Dan, pagi ini semua baik-baik saja, saya baik dan ngga ada lagi pembahasan tentang semuanya...Saya hanya menyimpan semua dalam hati, semoga perlahan hati saya dapat berkompromi dengan logika, sehingga ngga ada lagi keributan yang sangat menyiksa saya...
Alhamdulillah
12:15 Permalink | Comments (0) | Email this

